
Kalau selama ini Bandung dikenal sebagai kota kuliner, tempat nongkrong, dan destinasi wisata alam, sebenarnya kota ini juga punya daya tarik lain yang sering terlewatkan: arsitektur bersejarahnya.
Coba perhatikan ketika berjalan di kawasan Braga atau Asia-Afrika. Di antara kafe dan pertokoan modern, masih terlihat bangunan tua dengan bentuk yang berbeda dari bangunan masa kini. Ada fasad dengan garis horizontal, jendela memanjang, bentuk geometris, hingga sudut bangunan yang dibuat melengkung.
Salah satu gaya yang membuat wajah Bandung begitu khas adalah Art Deco.
Apa Sebenarnya Art Deco?
Art Deco merupakan gaya desain yang berkembang pada awal abad ke-20 dan dikenal dengan bentuk geometris, kesan modern, garis yang tegas, serta dekorasi yang teratur. Gaya ini berkembang seiring munculnya ketertarikan masyarakat terhadap teknologi, industri, dan kehidupan modern.
Di Bandung, gaya tersebut kemudian muncul pada berbagai bangunan penting. Karena itulah, berjalan-jalan di beberapa kawasan kota terasa seperti melihat potongan sejarah arsitektur dari masa yang berbeda.
Mengapa Bandung Banyak Menggunakan Gaya Ini?
Kemunculan Art Deco di Bandung tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kota pada masa kolonial. Bandung berkembang menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan kehidupan sosial. Perkembangan tersebut membuat kebutuhan terhadap bangunan modern semakin besar.
Letak Bandung yang berada di dataran tinggi juga membuat kota ini berkembang sebagai tempat peristirahatan dan tujuan bagi masyarakat Eropa pada masa Hindia Belanda. Setelah jalur kereta api menghubungkan Bandung dengan Batavia pada akhir abad ke-19, perkembangan kota semakin pesat. Hotel, toko, tempat hiburan, dan bangunan publik kemudian bermunculan.
Dalam perkembangan itulah gaya arsitektur modern seperti Art Deco mendapatkan tempat di Bandung.
Gedung Merdeka, Salah Satu Contohnya
Salah satu contoh yang menarik adalah Gedung Merdeka di Jalan Asia-Afrika. Bangunan ini awalnya didirikan pada 1895 sebagai Societeit Concordia, tempat berkumpul masyarakat Eropa kelas atas.
Bangunan tersebut kemudian mengalami renovasi dan pada 1921–1926 mendapatkan gaya Art Deco yang dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Beberapa tahun kemudian, gedung ini menjadi lokasi penting dalam sejarah dunia ketika Konferensi Asia-Afrika berlangsung pada 1955.
Jadi, ketika wisatawan berfoto di depan Gedung Merdeka, sebenarnya mereka sedang berada di sebuah bangunan yang bukan hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menyimpan sejarah internasional.
Savoy Homann, Art Deco yang Masih Digunakan
Contoh lainnya adalah Savoy Homann di Jalan Asia-Afrika. Hotel ini memiliki fasad dengan garis-garis horizontal dan bentuk lengkung yang menjadi ciri kuat gaya Art Deco.
Menariknya, bangunan ini bukan hanya peninggalan masa lalu yang dapat dilihat dari luar. Savoy Homann masih berfungsi sebagai hotel hingga sekarang. Hotel tersebut juga memiliki hubungan erat dengan sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955 karena menjadi tempat menginap sejumlah tokoh dan delegasi penting.
Hal ini membuat pengalaman melihat arsitekturnya terasa berbeda. Wisatawan tidak hanya melihat bangunan tua, tetapi juga bisa merasakan bagaimana bangunan bersejarah tetap digunakan dalam kehidupan kota modern.
Villa Isola, Art Deco di Utara Bandung
Kalau ingin melihat bentuk Art Deco yang lebih dramatis, ada Villa Isola di kawasan Setiabudi.
Bangunan ini selesai dibangun pada 1933 dan dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Bentuknya terlihat sangat berbeda karena memiliki komposisi melengkung, balkon bertingkat, serta susunan bangunan yang simetris. Villa Isola awalnya merupakan kediaman pribadi Dominique Willem Berretty dan kemudian mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Saat ini bangunan tersebut menjadi bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Bentuknya yang khas membuat Villa Isola menjadi salah satu contoh menarik ketika membicarakan warisan arsitektur Art Deco di Bandung.
Bahkan Stasiun Bandung Punya Jejak Art DecO
Tidak hanya hotel dan bangunan pemerintahan, jejak Art Deco juga dapat ditemukan di Stasiun Bandung. Bangunan stasiun bagian selatan mengalami perubahan pada sekitar 1930 dan menggunakan gaya Art Deco. Salah satu elemen yang menarik adalah kaca patri pada bagian hall utama.
Ini membuat perjalanan menggunakan kereta ke Bandung sebenarnya bisa menjadi awal dari perjalanan wisata sejarah. Begitu tiba di stasiun, wisatawan sudah bisa menemukan salah satu bagian dari warisan arsitektur kota.
Art Deco Membuat Bandung Punya Karakter Berbeda
Yang membuat Bandung menarik bukan hanya jumlah bangunan tuanya, tetapi bagaimana bangunan-bangunan tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan kota.
Braga masih ramai oleh wisatawan, Asia-Afrika menjadi kawasan populer untuk berjalan kaki, hotel bersejarah masih menerima tamu, dan bangunan lama tetap berdampingan dengan kafe serta ruang komersial modern.
Art Deco akhirnya bukan sekadar gaya bangunan dari masa lalu. Ia menjadi bagian dari identitas visual Bandung yang membuat kota ini memiliki karakter berbeda dibandingkan kota-kota lainnya.
Jadi, saat berkunjung ke Bandung, jangan hanya melihat bangunan sebagai latar foto. Coba perhatikan bentuk, garis, jendela, dan detail fasadnya. Bisa jadi, di balik bangunan yang terlihat biasa saja, ada cerita tentang bagaimana Bandung pernah berusaha tampil sebagai kota modern pada masanya.
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami
