Bandung sedang memasuki fase baru dalam perkembangan pariwisatanya. Pemerintah Kota Bandung menargetkan 23–24 juta kunjungan wisatawan hingga akhir 2026, setelah sekitar 12 juta perjalanan tercatat hingga pertengahan tahun. Salah satu faktor yang diharapkan mempercepat pertumbuhan tersebut adalah kembali beroperasinya penerbangan jet komersial di Bandara Internasional Husein Sastranegara.
Target ini cukup ambisius. Namun, yang lebih menarik bukan sekadar apakah angka 24 juta bisa tercapai, melainkan apa yang harus dilakukan Bandung agar peningkatan mobilitas benar-benar berubah menjadi pertumbuhan ekonomi pariwisata.
12 Juta Perjalanan Sudah Tercatat
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, sekitar 12 juta perjalanan wisatawan tercatat sepanjang semester pertama 2026. Angka tersebut menunjukkan tingginya mobilitas menuju Bandung, meskipun istilah yang digunakan pemerintah saat ini lebih mengacu pada jumlah perjalanan atau travelers, bukan semata-mata jumlah individu wisatawan.
Ini penting karena Bandung memang memiliki karakter sebagai destinasi yang dekat dengan pasar domestik. Banyak orang datang untuk kuliner, belanja, mengunjungi keluarga, menghadiri acara, perjalanan bisnis, hingga sekadar menghabiskan akhir pekan.
Artinya, kekuatan Bandung bukan hanya pada wisatawan yang sengaja merencanakan liburan panjang, tetapi juga pada frekuensi perjalanan yang tinggi.
Bandara Husein Kembali Membuka Akses Udara
Kembalinya penerbangan jet komersial di Bandara Husein Sastranegara menjadi salah satu faktor yang diharapkan memperkuat posisi Bandung.
Sebelumnya, akses menuju Bandung sangat bergantung pada jalan tol dan kereta api. Dengan penerbangan yang kembali tersedia, Bandung memiliki tambahan pintu masuk bagi wisatawan dari luar Pulau Jawa sekaligus peluang untuk memperkuat konektivitas dengan pasar internasional. Pemkot juga berharap penerbangan regional dan internasional dapat menarik wisatawan dari kawasan ASEAN.
Pemkot Bandung menargetkan sedikitnya 1 juta penumpang pada tahun pertama operasional penerbangan jet. Secara kapasitas, bandara disebut mampu menampung sekitar 2,7 juta penumpang per tahun.
Namun, angka tersebut tetap perlu dilihat secara realistis. Hingga 27 Agustus, jumlah penumpang yang tercatat masih sekitar 1.000 orang per hari, sementara target awal pemerintah berada di kisaran 3.000 penumpang per hari.
Tantangannya Bukan Sekadar Mendatangkan Wisatawan
Di sinilah target 24 juta menjadi menarik dari perspektif industri.
Mendatangkan wisatawan hanyalah tahap pertama. Tantangan berikutnya adalah berapa lama mereka tinggal, berapa banyak yang mereka belanjakan, dan seberapa luas manfaat ekonominya dirasakan pelaku usaha lokal.
Wisatawan yang hanya datang pagi lalu pulang malam tentu memberikan dampak berbeda dengan traveler yang menginap dua atau tiga malam.
Karena itu, Bandung perlu mengubah strategi dari sekadar visitor growth menjadi visitor value.
Caranya bisa melalui pengembangan paket wisata, agenda event, pengalaman kuliner, wisata kreatif, corporate experience, hingga perjalanan ke destinasi sekitar Bandung Raya dan Jawa Barat.
Bandara Bisa Menjadi Pintu Masuk, Bukan Tujuan Akhir
Bagi industri travel, kembalinya penerbangan langsung memberikan peluang yang cukup besar untuk membuat produk perjalanan baru.
Wisatawan yang mendarat di Bandung dapat diarahkan ke berbagai pengalaman: city tour, kuliner, wisata budaya, Lembang, Ciwidey, hingga perjalanan lanjutan ke destinasi Jawa Barat lainnya.
Hal serupa berlaku untuk pasar corporate dan MICE. Peserta meeting atau gathering dari luar daerah tidak harus berhenti pada agenda di hotel. Mereka bisa mendapatkan pre-event atau post-event experience yang memperkenalkan karakter Bandung.
Dengan demikian, konektivitas udara berfungsi sebagai enabler, sementara produk wisata dan kualitas pengalaman menjadi alasan wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Customer Experience Akan Menjadi Penentu
Pemkot Bandung sendiri mengakui bahwa dampak nyata reaktivasi Husein terhadap kunjungan masih perlu dievaluasi. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti pentingnya pengalaman penumpang setelah bandara kembali beroperasi.
Ini poin yang sering luput dalam pembahasan konektivitas.
Pesawat bisa membuka akses, tetapi pengalaman wisatawan setelah mendarat menentukan persepsi terhadap destinasi. Transportasi dari bandara, kemudahan menuju hotel, informasi wisata, kebersihan, pelayanan, hingga pengalaman selama berada di kota semuanya ikut membentuk destination branding.
Kalau aksesnya semakin mudah tetapi pengalaman di lapangan tidak berkembang, pertumbuhan jumlah wisatawan belum tentu menghasilkan loyalitas.
24 Juta Harus Diikuti Kualitas Pertumbuhan
Target 24 juta kunjungan menunjukkan optimisme Bandung terhadap masa depan pariwisatanya. Tetapi angka besar sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Yang lebih penting adalah bagaimana mobilitas tersebut menciptakan lama tinggal yang lebih panjang, belanja wisata yang lebih tinggi, lapangan kerja, dan peluang bisnis baru.
Bandung sudah memiliki modal berupa akses darat, kereta, bandara, industri kreatif, kuliner, hospitality, dan pasar domestik yang kuat. Tantangan berikutnya adalah menyatukan semua modal tersebut menjadi ekosistem perjalanan yang lebih terintegrasi.
Jadi, pertanyaan sebenarnya bukan hanya “Bisakah Bandung mencapai 24 juta kunjungan?”
Melainkan, “Apa yang Bandung tawarkan agar 24 juta perjalanan itu punya alasan untuk tinggal lebih lama dan kembali lagi?”
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami
