Bandung Punya Tempat Seunik Ini, Tapi Banyak yang Belum Tahu

Di tengah ramainya destinasi seperti Braga, Dago, Lembang, dan berbagai kafe estetik, Bandung ternyata masih punya sudut yang menawarkan pengalaman berbeda. Bukan gedung megah atau taman tematik, melainkan sebuah kampung warga yang berubah menjadi destinasi wisata penuh warna.

Namanya Lembur Katumbiri, berada di RW 12, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Kawasan ini sebelumnya dikenal sebagai Kampung Pelangi 200 dan mulai kembali diperkenalkan sebagai destinasi wisata tematik pada 2025.

Yang menarik, keunikan Lembur Katumbiri bukan hanya karena warna-warni rumahnya. Ada cerita tentang bagaimana sebuah kawasan permukiman bisa diubah menjadi pengalaman wisata tanpa kehilangan kehidupan warga di dalamnya.

Dari Kampung Warga Menjadi Destinasi Wisata

Lembur Katumbiri bukan kawasan yang sejak awal dibangun sebagai tempat wisata.

Sebelumnya, kawasan ini merupakan permukiman warga di sekitar Sungai Cikapundung. Transformasinya kemudian dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, dan seniman. Pada proses revitalisasinya, ratusan rumah warga dicat dengan warna-warna cerah dan dihiasi mural sehingga kawasan tersebut memiliki identitas visual yang kuat.

Kawasan ini resmi diresmikan pada 6 Mei 2025. Nama Lembur Katumbiri sendiri berasal dari bahasa Sunda. “Katumbiri” berarti pelangi, sehingga nama tersebut kurang lebih bermakna kampung pelangi. Nama ini juga diusulkan warga sebagai identitas baru kawasan.

Di sinilah letak keunikannya. Wisatawan tidak datang ke sebuah bangunan yang sengaja dibuat menyerupai kampung. Mereka justru masuk ke kampung yang benar-benar menjadi ruang hidup masyarakat.

Bukan Sekadar Kampung Warna-Warni

Kalau hanya mengandalkan rumah berwarna cerah, daya tarik Lembur Katumbiri mungkin akan cepat habis setelah wisatawan mendapatkan beberapa foto.

Namun, kawasan ini mencoba menawarkan lebih dari itu.

Akses menuju Lembur Katumbiri melewati gang di sekitar Jalan Siliwangi, dekat Teras Cikapundung. Pengunjung kemudian berjalan kaki menuju kawasan utama dan melewati jembatan di atas Sungai Cikapundung. Setelah itu, warna-warni rumah, mural, tangga, dan berbagai elemen visual mulai terlihat.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari atraksi. Bukan sekadar datang, parkir, masuk, lalu selesai.

Wisatawan diajak berjalan, melihat, memotret, dan berinteraksi dengan ruang kampung.

Ini merupakan konsep yang semakin relevan dalam perkembangan pariwisata kota. Destinasi tidak selalu harus memiliki wahana besar. Sebuah lingkungan dengan karakter yang kuat juga bisa menjadi produk wisata apabila dikemas dengan cerita dan pengalaman yang tepat.

Kenapa Tempat Ini Menarik untuk Wisatawan?

Salah satu kekuatan Lembur Katumbiri adalah visualnya.

Rumah-rumah dengan warna cerah dan mural menciptakan banyak sudut foto. Karena berada di kawasan yang memiliki kontur berundak, pengalaman berjalan di dalam kampung juga terasa berbeda dibanding mengunjungi tempat wisata yang seluruh areanya berada di satu bidang datar.

Saat libur panjang 2025, kawasan ini bahkan sempat dipadati wisatawan. Pengunjung berjalan kaki dari area parkir menuju lokasi dan kemudian menikmati suasana kampung sekaligus warung-warung yang dikelola warga.

Artinya, daya tarik visual bisa menjadi pintu masuk, tetapi aktivitas warga dan usaha lokal berpotensi menjadi bagian dari ekosistem wisatanya.

Ada Pelajaran Penting untuk Pariwisata Bandung

Lembur Katumbiri menarik jika dilihat bukan hanya sebagai tempat foto baru di Bandung, tetapi sebagai contoh community-based tourism.

Bandung memang sudah memiliki banyak destinasi yang dibangun dengan konsep komersial. Namun, destinasi berbasis kampung seperti Lembur Katumbiri menawarkan pendekatan yang berbeda: masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi bagian dari cerita destinasi.

Model seperti ini juga membuka peluang ekonomi yang lebih dekat dengan warga. Warung, produk lokal, jasa, hingga aktivitas komunitas bisa ikut berkembang ketika arus wisatawan meningkat.

Namun, popularitas juga membawa tantangan. Kajian pariwisata terhadap kawasan Kampung Pelangi 200/Lembur Katumbiri menunjukkan bahwa lonjakan wisatawan dapat memberikan peluang ekonomi sekaligus menimbulkan tekanan bagi masyarakat dan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, keberhasilan Lembur Katumbiri nantinya tidak cukup diukur dari seberapa ramai pengunjung atau seberapa viral fotonya. Yang lebih penting adalah apakah wisata tersebut benar-benar memberi manfaat bagi warga dan tetap menjaga karakter kampung.

Bandung Memang Punya Banyak Cerita di Sudut yang Tak Terduga

Lembur Katumbiri menunjukkan bahwa destinasi wisata tidak selalu lahir dari pembangunan besar-besaran. Kadang, sebuah kampung, mural, jembatan, dan cerita masyarakat sudah cukup untuk menciptakan alasan baru bagi wisatawan datang.

Bagi traveler, tempat seperti ini menawarkan pengalaman Bandung yang berbeda. Sementara bagi industri pariwisata, Lembur Katumbiri memperlihatkan bahwa identitas lokal bisa menjadi aset wisata yang kuat ketika dikembangkan bersama masyarakat.

Jadi, kalau selama ini Bandung hanya identik dengan Braga, kuliner, kafe, atau kawasan Lembang, mungkin sudah waktunya melihat Bandung dari sudut yang berbeda.

Karena ternyata, di balik gang kecil di kawasan Dago, ada satu kampung warna-warni yang sedang menulis cerita wisatanya sendiri.

Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *