
Jalan Braga adalah kawasan ikonik di Bandung yang menyimpan sejarah panjang. Kini, setiap akhir pekan, jalan ini menjadi area bebas kendaraan yang dikenal dengan nama Braga Beken.
Dibangun sejak era Hindia Belanda, Jalan Braga menjadi saksi bisu perubahan zaman. Dengan panjang 850 meter, dulunya jalan ini merupakan pusat perbelanjaan sekaligus tempat berkumpul masyarakat pada masa itu.
Di sepanjang kanan dan kiri Jalan Braga, masih berdiri deretan toko dengan arsitektur klasik peninggalan Hindia Belanda. Kini, kawasan ini dipenuhi restoran, kafe, penginapan, apotek, dan beberapa kantor.
Meskipun begitu, Jalan Braga tetap menjadi salah satu jalur utama di pusat kota Bandung. Jalan ini selalu ramai dengan kendaraan, pejalan kaki, pedagang, serta mobil dan motor yang terparkir.
Namun, suasana berubah saat akhir pekan. Pemerintah Kota Bandung menjadikan Jalan Braga bebas kendaraan setiap Sabtu dan Minggu, memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung.
Berikut adalah lima fakta menarik tentang Jalan Braga:
1. Mulanya Disebut Pedatiweg
Jalan Braga, yang dulunya dikenal sebagai Pedatiweg, adalah jalur penting pada masa kolonial Belanda. Awalnya, jalan ini berupa jalur becek dan berlumpur yang sering dilalui pedati pengangkut kopi.
Nama Pedatiweg berasal dari kata “pedati,” yaitu kereta kuda yang umum digunakan saat itu, dan “weg” dalam bahasa Belanda yang berarti “jalan.”
Pada tahun 1882, Pieter Sijthoff, asisten residen Bandung, mengganti nama Pedatiweg menjadi Bragaweg, yang terinspirasi dari nama seorang penulis drama, Theofila Braga.
Menurut para ahli sastra Sunda, nama Braga juga bisa berasal dari kata “baraga,” yang berarti jalan di tepi sungai, sesuai dengan lokasi Jalan Braga yang berada di tepi Sungai Cikapundung.
Ada juga teori lain yang mengaitkan nama Braga dengan minuman khas Rumania bernama Braga, yang dulu disajikan di Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka) di ujung selatan Bragaweg.
Selain itu, dalam bahasa Sunda, Braga bisa dihubungkan dengan kata “ngabaraga,” yang bermakna bergaya, mejeng, atau memamerkan diri.
2. Dahulu Disebut “Jalan Culik”
Dulu, Jalan Braga bukanlah kawasan ramai seperti sekarang. Jalan kecil yang sepi ini justru dikenal dengan julukan “Jalan Culik” karena rawan aksi penculikan.
Kesunyiannya membuat Jalan Braga memiliki reputasi menyeramkan, menjadi lokasi berbagai tindak kriminal yang sering berujung pada luka-luka hingga kematian. Kondisi ini memaksa tentara kolonial untuk rutin berpatroli di area tersebut, yang sayangnya juga diwarnai oleh berbagai aksi pembantaian.
3. Asal Mula Julukan Kota Kembang
Meski Bandung dikenal dengan taman bunganya yang indah, julukan “Kota Kembang” sebenarnya tidak berkaitan dengan keindahan bunga-bunga tersebut. Julukan ini justru lahir di era kolonial Belanda sebagai kiasan berkonotasi negatif.
Saat itu, Jalan Braga menjadi tempat populer bagi para bangsawan untuk berkumpul. Kehadiran hiburan malam di sudut-sudutnya menarik perhatian turis mancanegara yang mencari wanita-wanita cantik di kota ini, sehingga Bandung pun mulai disebut sebagai “Kota Kembang.”
Namun, terlepas dari asal-usul julukannya, Jalan Braga tetap menjadi simbol sejarah dan budaya, mencerminkan perjalanan zaman sekaligus peran pentingnya dalam perkembangan Bandung.
Kini, wisatawan dapat menikmati Jalan Braga sebagai destinasi yang memadukan nilai sejarah dengan gaya hidup modern yang memikat.
4. Toko Senjata Api Jadi yang Pertama Berdiri di Jalan Braga
Toko pertama yang berdiri di Jalan Braga pada tahun 1894 bukanlah kafe atau toko pakaian, melainkan sebuah toko senjata api milik C.A. Hellerman. Selain senjata api, toko ini juga menjual berbagai barang seperti sepeda, kereta kuda, dan menyediakan layanan reparasi senjata api.
Namun, bangunan awal yang menjadi tempat berdirinya toko tersebut—kini dikenal sebagai bangunan tua nomor 51—sudah runtuh dan ditinggalkan oleh pemiliknya.
5. Tempat Komersil dan Hiburan
Menurut e-book *Mengembalikan Citra Kawasan Jalan Braga Bandung*, pada tahun 1910, pemerintah kolonial Belanda merancang Jalan Braga sebagai pusat perbelanjaan untuk orang-orang Eropa di Hindia Belanda. Kawasan ini bahkan dijuluki *Het meest Europeesche Winkelstraat van Indië*, atau kawasan pertokoan Eropa terkemuka di Hindia Belanda.
Jalan Braga kemudian berkembang pesat dengan berdirinya toko, bar, dan tempat hiburan yang dimiliki para pengusaha Belanda. Selain menjadi pusat tren mode pakaian, pada tahun 1931, Ir. Thomas Karsten, anggota Komisi Loggemann, merumuskan *Stadsvormings Ordonantie* (SVO) yang menjadi panduan perencanaan kota di Hindia Belanda.
Ada beberapa aturan yang diterapkan untuk penataan kawasan Braga, seperti:
– Bangunan harus langsung menghadap tepi jalan tanpa halaman atau teras.
– Setiap bangunan harus berdampingan tanpa celah.
– Ketinggian bangunan maksimal dua lantai, dengan lantai pertama untuk komersial dan lantai atas sebagai hunian.
– Bangunan harus memiliki keselarasan baik secara horizontal maupun vertikal.
– Lantai pertama dilengkapi pintu masuk dan dinding kaca etalase, serta jendela kaca boven-licht untuk penerangan dengan ventilasi alami (gesloten bebouwing).
6. Mati Suri
Masa kejayaan Jalan Braga tidak bertahan lama. Pada tahun 1942, kawasan ini mengalami kemunduran akibat ketegangan politik dunia. Ketika Jepang mulai berkuasa di Indonesia, Jalan Braga seakan ditinggalkan, meninggalkan hanya jejak-jejak bangunan bergaya Indische Style.
7. Bangunan Bersejarah yang Tersisa
Jalan Braga mulai pulih setelah ditetapkan sebagai kawasan bersejarah oleh Pemerintah Kota Bandung melalui Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2009. Beberapa bangunan kolonial masih dapat ditemukan di sini.
Dari arah Jalan Asia-Afrika, ada Hotel Savoy Homann dan Gedung Merdeka yang menjadi saksi Konferensi Asia-Afrika pertama pada tahun 1955. Selain itu, terdapat juga Bioskop de Majestic yang memiliki bentuk unik seperti kaleng biskuit, serta Sarinah Braga yang kini berfungsi sebagai tempat penginapan berkelas di Bandung.
Lebih ke utara, terdapat Gedung Gas Negara dan restoran Braga Permai yang dulunya bernama Maison Bogerijen, tempat yang menyajikan hidangan istimewa untuk kalangan Belanda. Tak jauh dari sana, ada Gedung Bank Indonesia dan Gereja Katedral St. Petrus Bandung, yang menyimpan kisah perkembangan umat Katolik di Kota Kembang.
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami

I know this is really boring and you are skipping to the next comment, but I just wanted to throw you a big thanks – you cleared up some things for me!
Thanks for the guidelines you have discussed here. Another thing I would like to mention is that computer memory demands generally go up along with other developments in the engineering. For instance, as soon as new generations of processors are introduced to the market, there is usually a related increase in the size and style demands of both pc memory and also hard drive room. This is because the program operated by these processors will inevitably surge in power to leverage the new technology.
It was my excitement discovering your site last night. I came here now hoping to find out interesting things. I was not dissatisfied. Your ideas for new methods on this subject were useful and an excellent help to myself. Thank you for having time to create these things along with sharing your thinking.
Hey just wanted to give you a quick heads up.
The words in your content seem to be running off the screen in Opera.
I’m not sure if this is a format issue or something to do with web browser compatibility but I figured I’d post to let you know.
The layout look great though! Hope you get the problem resolved soon. Kudos