Di Jalan Braga, Bandung, ada sebuah bangunan berwarna putih yang cukup mudah dikenali. Pilar-pilar besar, bentuk bangunan yang simetris, serta detail klasik membuatnya terlihat berbeda dari bangunan modern di sekitarnya.
Bangunan tersebut sekarang dikenal sebagai Gedung Bank Indonesia Bandung. Namun, jauh sebelum Bank Indonesia berdiri, gedung ini merupakan kantor cabang De Javasche Bank, lembaga perbankan yang memiliki peran penting dalam sistem keuangan Hindia Belanda.
Usianya sudah lebih dari satu abad dan pada 2026 bangunan ini resmi ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya Kota Bandung.
Berawal dari De Javasche Bank
De Javasche Bank membuka cabangnya di Bandung pada 1909. Saat itu, Bandung sedang berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi penting di Jawa Barat.
Kehadiran bank ini tidak bisa dipisahkan dari perkembangan perkebunan dan perdagangan di sekitar Bandung. Aktivitas ekonomi yang semakin besar membutuhkan lembaga keuangan yang dapat mendukung transaksi dan perputaran uang.
Pada awalnya, kantor De Javasche Bank masih menggunakan bangunan yang sederhana. Namun, kebutuhan akan kantor yang lebih representatif kemudian mendorong pembangunan gedung permanen.
Gedung Permanen Mulai Dibangun pada 1915
Pembangunan gedung permanen dimulai pada 1915 dan prosesnya berlangsung selama beberapa tahun.
Menurut dokumentasi Bank Indonesia, pembangunan sempat mengalami kendala karena sejumlah material bangunan harus didatangkan dari Eropa, sementara pada saat itu Perang Dunia I sedang berlangsung.
Setelah proses pembangunan selesai, kantor cabang De Javasche Bank Bandung resmi dibuka pada 5 Mei 1918.
Bangunan ini kemudian menjadi salah satu landmark penting di kawasan pusat Kota Bandung.
Dirancang dengan Gaya Klasik
Salah satu hal yang langsung terlihat dari gedung ini adalah bentuk arsitekturnya.
Bangunan dirancang dengan prinsip neoklasik, terlihat dari penggunaan pilar-pilar klasik, fasad yang simetris, jendela besar, serta portico atau bagian depan bangunan yang menonjol sebagai pintu masuk utama.
Desainnya memang terasa sangat Eropa. Namun, bentuk tersebut menjadi bagian dari karakter arsitektur kolonial yang berkembang di Bandung pada awal abad ke-20.
Arsitek yang tercatat dalam dokumentasi bangunan adalah Edward Cuypers. Kantor cabang ini dirancang dengan susunan yang sangat simetris, sehingga dari depan bangunan terlihat kokoh dan monumental.
Bukan Sekadar Kantor Bank
Pada masa De Javasche Bank, gedung ini memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar kantor untuk melayani nasabah.
Bagian bawah bangunan digunakan sebagai ruang khazanah, sementara lantai utama digunakan untuk aktivitas kantor, termasuk ruang kerja kepala cabang.
Posisi ruang khazanah tersebut tentu bukan tanpa alasan. Sebagai lembaga yang berkaitan dengan peredaran uang, keamanan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perancangan gedung.
Bahkan, pemilihan Bandung sebagai lokasi cabang De Javasche Bank juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi kota dan pertimbangan strategis pada masa tersebut.
Pernah Melewati Masa Pendudukan Jepang
Perjalanan gedung ini tidak berhenti pada masa kolonial Belanda.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, De Javasche Bank dilikuidasi dan tugasnya sebagai bank sirkulasi kemudian diambil alih oleh Nanpo Kaihatsu Ginko.
Setelah Indonesia merdeka, situasi perbankan kembali mengalami perubahan. Pemerintah Indonesia mengambil alih gedung tersebut pada 1951.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1953, Bank Indonesia resmi berdiri dan gedung ini kemudian menjadi bagian dari perjalanan lembaga bank sentral Indonesia.
Arsitekturnya Masih Bisa Dilihat Sampai Sekarang
Meskipun sudah mengalami berbagai penyesuaian dan perkembangan fungsi, karakter utama bangunan masih bisa dikenali.
Fasad yang simetris, pilar klasik, jendela besar, dan menara di bagian tengah menjadi beberapa elemen yang membuat gedung ini tetap memiliki tampilan khas.
Menariknya, desain bangunan tidak hanya dibuat untuk terlihat megah. Struktur dan tata ruangnya juga menyesuaikan kebutuhan sebuah kantor bank pada masa itu.
Karena itulah, bangunan ini bisa dilihat dari dua sisi sekaligus: sebagai karya arsitektur dan sebagai bagian dari sejarah perkembangan sistem perbankan di Bandung.
Sekarang Resmi Menjadi Cagar Budaya
Status bangunan ini semakin kuat setelah Pemerintah Kota Bandung menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Bandung Nomor 646/Kep.385-Disbudpar/2026.
Keputusan tersebut ditetapkan pada 14 Januari 2026 dan dipublikasikan pada 30 Maret 2026.
Penetapan ini menunjukkan bahwa Gedung Bank Indonesia bukan hanya dianggap sebagai bangunan lama, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting bagi Kota Bandung.
Menjadi Saksi Perubahan Kota Bandung
Kalau melihat gedungnya sekarang, mungkin sulit membayangkan bagaimana suasana di sekitar Jalan Braga lebih dari seratus tahun lalu.
Padahal, bangunan ini sudah melewati berbagai periode penting. Mulai dari perkembangan Bandung pada masa kolonial, perubahan sistem perbankan, pendudukan Jepang, masa awal Indonesia merdeka, hingga perkembangan Kota Bandung menjadi kota modern.
Dalam perjalanan tersebut, fungsi bank boleh berubah, pemerintahan boleh berganti, dan lingkungan sekitar terus berkembang. Tetapi bangunannya tetap berdiri dan menjadi bagian dari wajah kota.
Dari De Javasche Bank Menjadi Bagian dari Sejarah Bandung
Gedung Bank Indonesia Bandung pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah bank.
Bangunan ini memperlihatkan bagaimana perkembangan ekonomi ikut membentuk wajah sebuah kota. Ketika Bandung mulai berkembang sebagai pusat perdagangan dan perkebunan, lembaga keuangan juga ikut hadir dan membangun infrastruktur yang mendukung aktivitas tersebut.
Lebih dari seratus tahun kemudian, gedung itu masih menjadi bagian dari Kota Bandung.
Jadi, ketika melewati Jalan Braga dan melihat bangunan putih dengan pilar-pilar besarnya, sebenarnya kita sedang melihat salah satu jejak perjalanan Bandung dari kota kolonial menuju kota modern.
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami
