Batagor, Seblak, hingga Cuanki: Kenapa Jajanan Bandung Begitu Mudah Diingat?

Kalau mendengar nama Bandung, yang muncul di kepala banyak orang bukan hanya udara sejuk atau kawasan Braga. Ada juga batagor, seblak, cuanki, cilok, surabi, hingga berbagai jajanan kaki lima yang mudah ditemukan di sudut kota.

Menariknya, makanan-makanan tersebut tidak selalu hadir dengan konsep mewah. Banyak justru sederhana, dijual di warung kecil atau gerobak. Namun, namanya bisa dikenal sampai luar Bandung. Lalu, apa yang membuat jajanan Bandung begitu mudah diingat?

Rasanya Kuat, Namanya Juga Mudah Diingat

Salah satu kekuatan jajanan Bandung adalah karakter rasanya yang cukup kuat. Gurih, pedas, kenyal, renyah, hingga kuah hangat menjadi bagian dari pengalaman makan yang mudah dikenali.

Seblak menjadi contoh yang menarik. Bumbu kencur, cabai, bawang, dan berbagai isian membuatnya punya karakter rasa yang berbeda. Pemerintah Kota Bandung sendiri mencatat bahwa seblak bukan sekadar kerupuk basah, tetapi nama yang merujuk pada racikan bumbunya.

Begitu juga dengan batagor. Namanya berasal dari “bakso tahu goreng”, sehingga relatif mudah diingat sekaligus menjelaskan bentuk dasar makanannya.

Nama yang pendek dan unik seperti batagor, seblak, dan cuanki akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner Bandung.

Jajanan Bandung Punya Pengalaman, Bukan Sekadar Makanan

Hal lain yang membuat jajanan Bandung kuat sebagai bagian dari pariwisata adalah cara makanan tersebut dikonsumsi.

Cuanki, misalnya, identik dengan semangkuk kuah hangat yang berisi bakso, tahu, siomay, atau pangsit. Cuanki juga memiliki sejarah perkembangan yang cukup panjang di Bandung dan Jawa Barat.

Pengalamannya sederhana: duduk, memilih tambahan, menambahkan sambal atau jeruk limau, lalu menyantapnya ketika masih panas.

Justru kesederhanaan seperti ini yang sering dicari wisatawan. Mereka tidak hanya ingin mencicipi makanan, tetapi juga merasakan cara makan yang menjadi bagian dari kehidupan lokal.

Kenapa Kuliner Bisa Menjadi Daya Tarik Wisata?

Kuliner punya keunggulan yang tidak selalu dimiliki objek wisata lain: wisatawan bisa membawa pengalamannya pulang.

Orang mungkin lupa nama jalan yang dilewati saat liburan. Tetapi rasa seblak yang terlalu pedas, batagor dengan bumbu kacang yang khas, atau semangkuk cuanki saat hujan bisa menjadi memori yang jauh lebih mudah diingat.

Tidak mengherankan jika kuliner khas Bandung terus muncul dalam pencarian wisatawan. Bahkan pada September 2026, media masih menempatkan batagor, cuanki, dan seblak sebagai bagian dari kuliner yang dicari ketika menjelajahi Bandung.

Ini menunjukkan bahwa wisata kuliner bukan sekadar pelengkap itinerary. Ia bisa menjadi alasan seseorang memilih sebuah kota.

Dari Jajanan Lokal Menjadi Identitas Kota

Yang menarik dari Bandung adalah banyak jajanan lokal berhasil beradaptasi dengan perubahan zaman.

Batagor tidak hanya dimakan langsung, tetapi juga dikembangkan menjadi produk oleh-oleh. Seblak memiliki banyak variasi isian dan tingkat kepedasan. Cuanki juga terus muncul dalam berbagai bentuk usaha kuliner baru.

Artinya, kuliner tradisional tidak harus berhenti sebagai produk masa lalu. Ia bisa berkembang mengikuti selera konsumen tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Dari sisi branding destinasi, hal ini sangat penting. Kota tidak harus selalu menciptakan sesuatu yang baru untuk terlihat menarik. Kadang, kekuatan branding justru berasal dari sesuatu yang sudah dimiliki dan terus relevan.

Kuliner Bandung dan Potensi Experience Tourism

Bagi industri pariwisata, jajanan seperti batagor, seblak, dan cuanki punya potensi lebih besar jika dikemas sebagai bagian dari pengalaman.

Family trip misalnya, bisa memasukkan aktivitas berburu jajanan lokal. Sementara untuk corporate trip atau gathering, kuliner dapat dikembangkan menjadi food challenge, tur kuliner, atau aktivitas mengenal makanan khas bersama.

Dengan pendekatan tersebut, makanan tidak hanya menjadi agenda “makan siang”. Ia berubah menjadi bagian dari cerita perjalanan.

Inilah yang membuat kuliner Bandung menarik: produk makanannya sederhana, tetapi pengalaman yang bisa dibangun di sekitarnya cukup besar.

Bandung Tidak Hanya Menjual Tempat, tapi Juga Rasa

Pada akhirnya, kekuatan kuliner Bandung bukan hanya terletak pada banyaknya pilihan makanan. Ada kombinasi antara rasa, nama yang mudah diingat, sejarah, kebiasaan masyarakat, dan pengalaman sederhana yang sulit dipisahkan dari suasana kota.

Jadi, ketika wisatawan datang ke Bandung dan mencari batagor, seblak, atau cuanki, sebenarnya mereka sedang mencari lebih dari sekadar makanan.

Mereka sedang mencari rasa Bandung.

Dan selama jajanan lokal mampu terus beradaptasi tanpa kehilangan karakternya, kuliner akan tetap menjadi salah satu aset penting yang membuat wisatawan punya alasan untuk kembali ke Kota Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *