Jalan Alkateri: Jejak Kampung Arab di Tengah Pecinan Bandung

Kalau mendengar kawasan Pecinan Bandung, mungkin yang langsung terbayang adalah deretan toko, kuliner, dan suasana perdagangan di sekitar Pasar Baru. Tapi di kawasan yang sama, ada satu jalan dengan nama yang justru terdengar Arab: Jalan Alkateri.

Nama jalan ini bukan muncul secara kebetulan. Alkateri memiliki hubungan dengan keberadaan komunitas Arab dan aktivitas perdagangan yang sudah berkembang di kawasan tersebut sejak masa lalu. Bahkan sampai sekarang, jejak keberagaman itu masih bisa ditemukan dari nama jalan, gang, bangunan, hingga jenis usaha yang ada di sekitarnya.

Dari Nama Keluarga Al Katiri

Salah satu cerita yang paling banyak dikaitkan dengan asal nama Jalan Alkateri adalah keluarga Al Katiri, salah satu keluarga Arab yang pernah tinggal dan berdagang di kawasan tersebut.

Pada masa sebelum kemerdekaan, kawasan sekitar Jalan ABC menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat, termasuk Arab, Bumiputra, dan Tionghoa. Salah satu saudagar yang dikenal cukup kaya adalah Alkateri. Karena aktivitas perdagangannya cukup terkenal, kawasan jalan tempat ia berdagang kemudian dikenal sebagai Jalan Alkateri.

Sumber akademik tentang toponimi Kota Bandung juga mencatat bahwa nama Alkateri merupakan bentuk dari Al Katiri, yang menjadi salah satu jejak komunitas keturunan Arab dalam penamaan jalan di kawasan sekitar Pasar Baru.

Kampung Arab di Tengah Kawasan Pecinan

Hal yang menarik dari Jalan Alkateri adalah lokasinya.

Jalan ini berada di kawasan yang secara historis juga berkaitan dengan Pecinan Bandung. Namun, karakter Jalan Alkateri berbeda karena kawasan tersebut dikenal memiliki unsur Kampung Arab. Penelitian ITB mengenai koridor kawasan ini juga mencatat keberadaan karakter kampung Arab di Jalan Alkateri.

Jadi, dalam satu kawasan yang tidak terlalu luas, kita bisa menemukan jejak beberapa komunitas yang hidup dan berdagang berdampingan.

Nama-nama jalan di sekitarnya juga memperlihatkan hal tersebut. Ada Jalan Alkateri, Gang Aljabri, hingga nama jalan lain yang berkaitan dengan tokoh atau saudagar dari berbagai latar belakang.

Kawasan Perdagangan Sejak Dulu

Sejak masa lalu, Jalan Alkateri memang memiliki karakter sebagai kawasan perdagangan.

Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini pada awalnya banyak digunakan sebagai toko. Beberapa bangunan lama bahkan masih mempertahankan bentuk fasadnya, meskipun sebagian lainnya sudah mengalami renovasi. Penelitian ITB mencatat karakter bangunan lama di kawasan ini umumnya berupa bangunan satu hingga dua lantai dengan fungsi pertokoan.

Sampai sekarang, aktivitas perdagangan masih menjadi bagian dari kehidupan Jalan Alkateri. Toko karpet, tekstil interior, hingga berbagai usaha lainnya bisa ditemukan di sepanjang jalan ini.

Ada Gang Aljabri di Dekatnya

Tidak jauh dari Jalan Alkateri terdapat Gang Aljabri, yang juga menyimpan cerita tersendiri.

Pada masa kolonial, kawasan ini pernah dikenal sebagai salah satu lokasi perdagangan opium. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari sejarah kawasan perdagangan Bandung pada masa lalu, meskipun tentu sudah tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan kawasan saat ini.

Sekarang, suasananya sudah berubah. Gang tersebut lebih dikenal sebagai bagian dari kawasan pertokoan dan perdagangan barang antik.

Cerita seperti ini menunjukkan bahwa sebuah jalan bisa menyimpan perubahan fungsi yang cukup panjang dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Dekat dengan Kopi Purnama

Salah satu tempat yang ikut membuat kawasan Jalan Alkateri menarik adalah Kopi Purnama.

Kedai kopi yang berada di kawasan tersebut sudah menjadi bagian dari sejarah kuliner Bandung selama puluhan tahun. Sumber sejarah lokal mencatat keberadaan kedai ini sejak sekitar akhir 1920-an atau awal 1930-an.

Keberadaan tempat seperti Kopi Purnama memperlihatkan bahwa Jalan Alkateri bukan hanya kawasan perdagangan. Dari waktu ke waktu, kawasan ini juga menjadi ruang untuk bertemu, makan, minum, dan bersosialisasi.

Bagian dari Sejarah Kawasan ABC

Jalan Alkateri juga tidak bisa dipisahkan dari kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jalan ABC.

Kawasan tersebut memiliki sejarah sebagai tempat tinggal dan aktivitas berbagai kelompok etnis. Nama ABC sendiri sering dijelaskan sebagai singkatan dari Arabian, Bumiputra, dan Chinese, yang menggambarkan keberagaman masyarakat yang pernah hidup dan berdagang di kawasan tersebut.

Karena itu, berjalan di sekitar Alkateri sebenarnya seperti melihat potongan kecil dari sejarah keberagaman Kota Bandung.

Di satu sisi ada jejak komunitas Arab, di sisi lain ada kawasan Pecinan, sementara aktivitas perdagangan menjadi penghubung di antara semuanya.

Jalan Kecil dengan Cerita yang Panjang

Sekarang Jalan Alkateri mungkin terlihat seperti jalan perdagangan biasa. Toko-toko tetap buka, kendaraan berlalu-lalang, dan aktivitas jual beli berlangsung seperti kawasan perdagangan pada umumnya.

Tapi kalau diperhatikan lebih jauh, nama jalan dan bangunan di sekitarnya menyimpan cerita tentang bagaimana Bandung berkembang menjadi kota yang dihuni berbagai kelompok masyarakat.

Jalan Alkateri menjadi salah satu contoh bahwa sejarah Bandung tidak hanya tersimpan di gedung-gedung besar atau monumen terkenal. Kadang, sejarah justru bisa ditemukan dari nama sebuah jalan.

Dari nama Al Katiri, jejak kampung Arab, hingga aktivitas perdagangan yang bertahan sampai sekarang, Jalan Alkateri menjadi salah satu sudut Bandung yang menyimpan cerita tentang keberagaman kota ini.

Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *