Di tengah Bandung yang semakin dipenuhi kedai kopi modern, ada satu tempat yang justru menarik karena hampir tidak berubah. Namanya Kopi Aroma, toko sekaligus tempat pengolahan kopi yang berada di Jalan Banceuy No. 51.
Usaha ini sudah berdiri sejak 1930. Artinya, Kopi Aroma telah melewati berbagai periode sejarah Bandung, dari masa kolonial hingga perkembangan kota menjadi salah satu destinasi wisata populer di Indonesia. Sampai sekarang, pengolahan kopi masih dilakukan dengan cara tradisional dan toko tetap berada di bangunan yang sama.
Berdiri Sejak 1930 di Jalan Banceuy
Kopi Aroma didirikan oleh Tan Houw Sian pada 1930. Awalnya, usaha ini melayani kebutuhan kopi masyarakat Bandung, termasuk warga Belanda dan Jepang yang tinggal di kota tersebut pada masa itu.
Seiring waktu, usaha keluarga ini diteruskan ke generasi berikutnya. Dari sebuah bisnis yang melayani pelanggan lokal, Kopi Aroma kemudian berkembang menjadi salah satu oleh-oleh khas Bandung yang dikenal hingga luar kota, bahkan mancanegara.
Yang menarik, lokasi usahanya tidak berpindah. Aktivitas pengolahan dan penjualan kopi masih berlangsung di Jalan Banceuy No. 51 hingga sekarang. Jadi, ketika wisatawan datang ke tempat ini, mereka bukan hanya membeli kopi, tetapi juga datang ke sebuah bagian dari sejarah perdagangan Kota Bandung.
Bukan Coffee Shop, Justru Itu yang Membuatnya Menarik
Ada satu hal yang perlu diketahui wisatawan: Kopi Aroma bukan kafe.
Tempat ini lebih tepat disebut sebagai toko dan roastery keluarga. Pengunjung datang untuk membeli kopi, melihat suasana bangunan lama, dan merasakan atmosfer tempat yang sudah menjalankan tradisi pengolahan kopi selama puluhan tahun.
Kopi Aroma sendiri menyebut bahwa mereka tidak memiliki cabang maupun kafe. Pembelian dilakukan langsung di Jalan Banceuy No. 51.
Hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Di era ketika pengalaman minum kopi sering dikaitkan dengan interior estetik dan konsep kekinian, Kopi Aroma menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman melihat tradisi yang masih berjalan.
Ada Proses Panjang Sebelum Kopi Sampai ke Tangan Pembeli
Rahasia menarik dari Kopi Aroma bukan hanya pada usia usahanya, tetapi juga pada proses pengolahannya.
Biji kopi mentah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia terlebih dahulu dijemur. Kopi Arabika kemudian melalui proses penuaan selama sekitar delapan tahun, sedangkan Robusta sekitar lima tahun. Setelah itu, kopi disangrai menggunakan mesin berbahan bakar kayu karet. Mesin roasting yang digunakan disebut masih merupakan mesin buatan Jerman yang telah digunakan sejak 1930.
Proses seperti ini membuat Kopi Aroma memiliki cerita yang berbeda dari banyak produk kopi modern. Ada unsur waktu, konsistensi, dan kesabaran yang menjadi bagian dari produknya.
Bahkan kopi disangrai setiap pagi dan kopi matang kemudian dijual di toko agar pelanggan bisa mendapatkan hasil sangraian yang masih baru.
Bangunannya Juga Punya Nilai Sejarah
Jangan hanya memperhatikan kemasan kopinya ketika berkunjung.
Bangunan Kopi Aroma sendiri memiliki nilai heritage. Bangunan bergaya Art Deco tersebut tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya Kota Bandung sejak 2018. Kopi Aroma juga menerima Anugrah Budaya Kota Bandung 2024 atas kontribusinya dalam pelestarian tradisi pengolahan kopi.
Inilah yang membuat Jalan Banceuy menarik untuk wisata kota. Satu kawasan bisa mempertemukan wisatawan dengan sejarah perdagangan, bangunan lama, kuliner, dan budaya masyarakat Bandung.
Kopi Aroma kemudian menjadi salah satu titik yang memperkuat karakter tersebut.
Kopi Aroma sebagai Wisata Heritage Bandung
Kalau dilihat dari perspektif pariwisata, Kopi Aroma menunjukkan bahwa heritage tourism tidak selalu harus berbentuk museum atau bangunan yang hanya dilihat dari luar.
Sebuah bisnis yang masih aktif juga bisa menjadi bagian dari pengalaman heritage ketika sejarah, bangunan, produk, dan tradisinya masih terhubung.
Wisatawan yang datang ke kawasan pusat Kota Bandung bisa menggabungkan kunjungan ke Kopi Aroma dengan berbagai kawasan bersejarah di sekitarnya, seperti Braga, Pasar Baru, kawasan Alun-Alun Bandung, hingga Jalan Asia Afrika. Bahkan pihak Kopi Aroma sendiri mencantumkan sejumlah kawasan tersebut sebagai area yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari tokonya.
Dari sini terlihat bahwa daya tarik sebuah destinasi tidak selalu harus sesuatu yang baru.
Kadang justru hal yang bertahan memiliki cerita paling kuat.
Kopi Aroma menjadi contoh bagaimana sebuah usaha keluarga dapat menjadi bagian dari identitas kota. Selama hampir satu abad, tempat ini tidak perlu mengikuti setiap perubahan tren kopi. Mereka justru mempertahankan apa yang menjadi karakter mereka sejak awal.
Dan ketika wisatawan datang ke Jalan Banceuy, yang dibawa pulang bukan hanya sebungkus kopi. Ada cerita tentang Bandung, tradisi keluarga, dan sebuah usaha yang memilih untuk terus menjaga aroma yang sama sejak 1930.
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami
