SEJARAH STASIUN RADIO MALABAR

Kalau kamu suka jelajah tempat bersejarah yang punya vibe misterius tapi keren, Stasiun Radio Malabar di Bandung Selatan wajib banget kamu tahu. Tempat ini dulu jadi salah satu proyek paling gila di zamannya — bayangin aja, dari tengah hutan di Gunung Puntang, mereka bisa kirim sinyal radio sampai ke Belanda, 12 ribu kilometer jauhnya!

Dulu Banget, Pas Belanda Masih di Sini…

Sekitar tahun 1916, pemerintah Hindia Belanda ngebangun Stasiun Radio Malabar di kaki Gunung Puntang, Kabupaten Bandung. Proyek ini digarap serius banget sama seorang insinyur asal Belanda, Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot, dan akhirnya diresmikan pada 5 Mei 1923.

Tujuannya? Supaya Belanda bisa berkomunikasi langsung sama pemerintah kolonial di Hindia Belanda lewat gelombang radio. Jadi, bisa dibilang ini tuh kayak “jembatan komunikasi” antar benua pertama dari Indonesia ke Eropa.

Teknologi yang Gila di Masanya

Yang bikin kagum, teknologi di Stasiun Radio Malabar itu super canggih buat tahun 1920-an. Mereka pakai sistem VLF (Very Low Frequency) buat ngirim sinyal jarak jauh. Antenanya? Panjangnya sekitar 2 kilometer dan dibentangin dari Gunung Puntang sampai Gunung Halimun — kebayang kan ribetnya pas masang itu semua di tengah hutan dan perbukitan?

Dan ini bukan sekadar proyek kecil-kecilan. Di masa itu, suara dari Bandung bisa beneran nyampe ke Den Haag, Belanda. Bahkan kabarnya, Ratu Belanda pernah kirim pesan langsung lewat jaringan ini, yang disiarkan ke seluruh Hindia Belanda.

Nggak Cuma Soal Teknologi

Selain jadi pusat komunikasi, Radio Malabar juga punya nilai simbolis. Dari sinilah muncul lagu terkenal “Hallo Bandoeng” — lagu yang menggambarkan gimana pentingnya stasiun ini buat hubungan antara dua dunia yang terpisah jauh banget.

Waktu itu, Stasiun Malabar bukan cuma sekadar tempat kerja para teknisi, tapi juga jadi semacam “ikon modernitas” di Indonesia zaman kolonial.

Masa-masa Sulit

Sayangnya, kejayaan Stasiun Radio Malabar nggak bertahan lama. Pas Perang Dunia II meletus dan Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, operasionalnya berhenti. Lalu waktu peristiwa Bandung Lautan Api (1946), sebagian besar bangunan dan peralatan dihancurkan biar nggak direbut lagi sama Belanda.

Sekarang, yang tersisa cuma reruntuhan dan sisa fondasinya aja. Tapi kalau kamu ke sana, masih bisa lihat beberapa peninggalan aslinya yang bikin merinding — kayak tiang-tiang bekas antena dan bangunan kecil di tengah pepohonan.

Warisan yang Masih Hidup

Meskipun udah tinggal puing, Stasiun Radio Malabar tetap jadi kebanggaan sejarah Indonesia. Dari sinilah kita bisa ngelihat gimana majunya teknologi komunikasi di masa lalu. Sekarang, kawasan ini sering dikunjungi buat wisata sejarah atau camping seru di Gunung Puntang — apalagi udaranya sejuk banget dan suasananya adem.

Buat yang suka sejarah, ini tempat sempurna buat napak tilas. Buat yang suka alam, ini spot keren buat healing sekaligus belajar sesuatu yang nggak kamu temuin di kota.

Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *