Bandung bukan cuma soal kafe baru, tempat makan viral, atau destinasi yang sedang ramai di media sosial. Di balik perkembangan kotanya, masih ada sudut-sudut yang membuat suasana Bandung terasa seperti kembali ke masa lalu.
Bangunan bergaya Art Deco, jalan yang sudah menjadi saksi berbagai peristiwa, hingga kawasan yang sejak dulu menjadi pusat aktivitas kota masih bisa ditemukan sampai sekarang. Menariknya, suasana tempo dulu di Bandung bukan hanya bisa dilihat dari bangunannya, tetapi juga dari cerita yang melekat pada setiap tempat.
Kalau ingin melihat sisi Bandung yang berbeda, tujuh tempat ini bisa masuk dalam rencana perjalanan.
1. Jalan Braga
Sulit membicarakan Bandung tempo dulu tanpa menyebut Jalan Braga.
Sejak masa kolonial, Braga sudah menjadi kawasan perdagangan, pertokoan, restoran, hingga berbagai aktivitas sosial. Arsip sejarah Bank Indonesia mencatat bahwa kawasan Braga pada masa tersebut dipenuhi butik, restoran, kafe, bank, bioskop, dan pertokoan.
Sampai sekarang, sejumlah bangunan lama masih memberikan karakter khas pada jalan ini. Berjalan kaki di Braga membuat pengalaman wisata terasa berbeda karena yang dinikmati bukan hanya tempatnya, tetapi juga atmosfer kota yang sudah terbentuk selama puluhan tahun.
2. Jalan Asia Afrika
Kalau Braga memberikan nuansa Bandung lama dari sisi perdagangan dan gaya arsitektur, Jalan Asia Afrika membawa cerita yang jauh lebih besar.
Kawasan ini berkaitan erat dengan Konferensi Asia Afrika 1955. Di sepanjang kawasan tersebut masih berdiri sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting dari identitas Bandung.
Berjalan di kawasan ini terasa seperti menyusuri bagian dari buku sejarah. Apalagi ketika melihat Gedung Merdeka dan bangunan-bangunan tua di sekitarnya.
3. Gedung Merdeka
Gedung Merdeka bukan sekadar bangunan tua dengan arsitektur klasik.
Bangunan di Jalan Asia Afrika ini awalnya berkaitan dengan Concordia Societeit, tempat kegiatan sosial dan rekreasi pada masa kolonial. Gedung tersebut kemudian mengalami renovasi besar sebelum akhirnya menjadi lokasi utama Konferensi Asia Afrika 1955.
Karena itu, kunjungan ke Gedung Merdeka memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar melihat bangunan bersejarah. Tempat ini memperlihatkan bagaimana sebuah ruang di kota bisa berubah fungsi mengikuti perjalanan zaman.
4. Hotel Savoy Homann
Hotel Savoy Homann menjadi salah satu bangunan yang paling kuat merepresentasikan Bandung tempo dulu.
Cikal bakal hotel ini sudah ada sejak 1871. Bangunannya kemudian mengalami perubahan besar dan pada 1939 dirancang ulang oleh A.F. Aalbers dengan gaya Art Deco streamline yang menjadi ciri khasnya.
Hotel ini juga memiliki hubungan erat dengan Konferensi Asia Afrika 1955. Sejumlah kepala negara dan delegasi menginap di sini, termasuk Presiden Soekarno.
Jadi, kalau ingin melihat bangunan bersejarah yang masih berfungsi sebagai hotel hingga sekarang, Savoy Homann menjadi salah satu contoh menarik.
5. Gedung Sate
Gedung Sate mungkin merupakan bangunan yang paling mudah dikenali ketika membicarakan Bandung.
Dibangun pada era kolonial, bangunan ini memiliki perpaduan unsur arsitektur Eropa dengan elemen yang terinspirasi dari budaya Nusantara. Ciri paling ikoniknya adalah enam ornamen berbentuk bulatan pada puncak menara yang kemudian melahirkan nama “Gedung Sate”.
Keberadaan Gedung Sate menunjukkan bahwa bangunan lama tidak selalu harus menjadi museum untuk tetap relevan. Sampai sekarang, bangunan tersebut masih menjadi bagian penting dari kehidupan pemerintahan dan identitas Kota Bandung.
6. Villa Isola
Berada di kawasan Universitas Pendidikan Indonesia, Villa Isola menawarkan suasana tempo dulu dengan karakter yang berbeda.
Bangunan ini selesai dibangun pada 1933 dan dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Bentuknya yang melengkung dan gaya Art Deco streamline membuat Villa Isola menjadi salah satu karya arsitektur bersejarah yang penting di Bandung.
Yang menarik, bangunan ini tidak berdiri sebagai peninggalan masa lalu yang terpisah dari kehidupan kota. Villa Isola kini digunakan sebagai bagian dari lingkungan UPI.
7. Hotel Preanger
Masih berada di kawasan Jalan Asia Afrika, Hotel Preanger juga menjadi bagian dari jejak Bandung tempo dulu.
Bangunan hotel ini memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu contoh arsitektur bersejarah yang masih berfungsi sebagai akomodasi. Hotel Preanger juga termasuk dalam rangkaian bangunan Art Deco penting di kawasan pusat sejarah Bandung.
Keberadaan hotel seperti Preanger dan Savoy Homann memperlihatkan satu hal menarik: sejarah Bandung tidak hanya tersimpan di museum. Sebagiannya masih digunakan, dilewati, bahkan menjadi bagian dari aktivitas wisata hari ini.
Bandung Tempo Dulu Masih Bisa Dirasakan
Melihat tujuh tempat ini, terlihat bahwa pengalaman wisata sejarah di Bandung tidak selalu membutuhkan perjalanan ke tempat yang jauh.
Cukup berjalan di Braga, menyusuri Asia Afrika, memperhatikan detail bangunan lama, atau menikmati arsitektur Gedung Sate dan Villa Isola, wisatawan sebenarnya sudah bisa menemukan potongan-potongan cerita dari Bandung pada masa lalu.
Inilah yang membuat wisata heritage menarik. Kita tidak hanya datang untuk melihat bangunan tua, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah kota berubah tanpa sepenuhnya meninggalkan masa lalunya.
Bagi wisatawan, suasana tempo dulu juga bisa menjadi cara berbeda untuk mengenal Bandung. Bukan Bandung yang hanya dikenal karena kuliner dan tempat nongkrong, tetapi Bandung yang punya cerita panjang di balik jalan dan bangunannya.
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami
