Ramadan di Bandung bukan cuma soal kuliner dan bukber. Ada lapisan budaya yang sering luput dari perhatian tradisi yang tumbuh dari perpaduan Islam dan budaya Sunda.
Beberapa masih hidup, beberapa mulai jarang terdengar, tapi semuanya punya makna sosial yang kuat.

1. Ngadulag: Bedug Jadi Identitas Ramadan Sunda
Sebelum pengeras suara dan sirine modern, masyarakat Sunda menggunakan bedug sebagai penanda waktu ibadah. Dari situ lahir tradisi ngadulag, yaitu menabuh bedug secara ritmis, biasanya menjelang sahur atau saat takbiran.
Di beberapa wilayah Jawa Barat, termasuk pinggiran Bandung, ngadulag berkembang jadi ajang kreativitas remaja masjid. Irama tabuhan dibuat lebih variatif, bahkan kadang dilombakan antar kampung.
Maknanya bukan sekadar membangunkan sahur. Ini tentang solidaritas warga, partisipasi generasi muda dan ekspresi budaya lokal dalam konteks Ramadhan.
Sekarang tradisi ini memang tak sekuat dulu karena tergantikan speaker masjid, tapi di beberapa daerah masih bisa ditemui menjelang Idul Fitri.
2. Munggahan: Ritual Penyambutan Ramadan
Sebelum Ramadan dimulai, masyarakat Sunda mengenal tradisi munggahan. Biasanya dilakukan beberapa hari sebelum puasa dengan berkumpul bersama keluarga atau komunitas.
Bentuknya bisa berupa makan bersama, ziarah makam keluarga dan saling bermaafan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Di Bandung, munggahan sering dilakukan di rumah keluarga besar atau bahkan di area wisata alam sekitar Lembang dan Dago sebagai bentuk kebersamaan sebelum memasuki fase ibadah yang lebih khusyuk.
3. Ngabuburit: Dari Bahasa Sunda Jadi Istilah Nasional
Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, dari kata “burit” yang berarti sore hari. Awalnya merujuk pada kegiatan menunggu waktu Maghrib dengan aktivitas santai.
Karena kuatnya budaya ini di Bandung, istilahnya menyebar ke seluruh Indonesia dan sekarang jadi bagian kosakata nasional. Dulu ngabuburit identik dengan duduk santai, ngaji sore, main kaulinan tradisional.
Sekarang bergeser ke hunting takjil, nongkrong di cafe dan melakukan event. Perubahan ini menarik secara budaya larena menunjukkan adaptasi tradisi ke gaya hidup urban tanpa kehilangan makna dasarnya:
4. Tarawih Keliling & Safari Ramadan
Di beberapa kampung di Bandung dan sekitarnya, ada tradisi tarawih keliling. Jamaah berpindah dari satu masjid ke masjid lain setiap malam selama Ramadan.
Selain mempererat silaturahmi antar wilayah, tradisi ini juga memperkenalkan generasi muda pada lingkungan sosial yang lebih luas.
Konsep ini kemudian berkembang menjadi “Safari Ramadan” yang sering dilakukan oleh tokoh masyarakat dan pemerintah daerah.
5. Takbiran Keliling: Euforia Menyambut Idul Fitri
Menjelang malam Idul Fitri, takbiran keliling menjadi puncak ekspresi Ramadan. Di banyak wilayah Bandung dan Jawa Barat, warga membuat miniatur masjid atau ornamen Islami yang diarak keliling sambil mengumandangkan takbir.
Dulu identik dengan obor dan bedug besar, kini lebih modern dengan kendaraan hias dan sound system.
Meski regulasi keamanan semakin ketat, esensi perayaannya tetap sama: syukur dan kegembiraan setelah sebulan berpuasa.
Info lebih lengkap mengenai WISATA JAWA BARAT Khususnya BANDUNG, bisa kunjungi tourbandung.co.id atau hubungi Whatsapp dan E-Mail kami
